
“Kalau suami mereka tahu bagaimana ?” tanyaku.
“Santai saja, sebab di sini wanita adalah konsumsi. Mereka tidak berhak marah. Itu yang disebelah kiri itu kan suaminya yang itu,” kata Yati sambil menunjuk seorang wanita yang tengah menggosok betisnya dengan batu.
Di tepian aku memperhatikan Masmah masih belum menceburkan diri ke air, dia asyik berbincang dengan seorang wanita. Nampaknya mereka berdua merasa kalau sedang aku perhatikan. Merasa diperhatikan seperti itu mereka sama sekali tidak merasa risih, bahkan mereka duduk pada sebuah batu yang letaknya lebih dekat denganku.
“Tidak usah ditutupi pak, kita semua di sini telanjang kok jadi ndak usah malu,” kata Yati sambil tangannya berusaha untuk menyingkirkan tanganku yang menutupi penisku.
“Kalau baru pertama mandi di sini pasti ngaceng,” kata Yati yang entah sengaja atau tidak menyentuh penisku.
“Pak Haji mana tanyaku ?” sambil berbisik.
“Mungkin di sebelah,” jawab Yati.
“Kalau begitu aku menyusul ke sebelah saja,” jawabku sambil berbalik.
“Jangan pak, nanti bisa dapat masalah, kalau masuk ke sana harus berpasangan,” jawab Yati pelan.
“Memang kenapa ?” tanyaku.
“Nanti aja ceriteranya di rumah, sekarang kita ke tepi saja, kalau masih malu keluar dari air duduk saja di batu itu,” jawab Yati, sambil menunjuk sebuah batu yang letaknya di dalam air kurang lebih satu meter dari tempat Masmah duduk. Aku masih bengong dan belum ada respon. Tiba-tiba Yati melakukan gerakan yang cukup mengejutkan aku, digenggamnya penisku lalu ditarik sambil berkata, “Ayo duduk di situ, capek nih berdiri terus.”
“I i iya,” jawabku tergagap karena masih asyik memperhatikan Masmah dan kawannya.
“Duduk situ saja pak, kalau malu keluar dari air,” kata Masmah sambil membetulkan duduknya lebih masuk ke air hingga pantatnya masuk ke air.
“Sudah duduk sini dulu saya mandi dulu,” kata Yati setelah sampai di batu yang dimaksud.
“Pak Theo kalau mau lihat jangan sungkan sebab disini bebas untuk melihat tapi haram untuk memegang,” kata Masmah sambil membenahi duduknya lebih mengangkang karena akan membersihkan selangkangannya, dalam posisi duduk seperti itu begitu nampak jelas belahan vagina Masmah yang berada kurang lebih satu meter di hadapanku. Melihat pemandangan seperti itu makin bertambah tegang saja penisku.
Tanpa kusadari ketiga wanita di depanku juga tengah asyik memperhatikan batang penisku yang makin mengembang, dan nampak mata mereka begitu horny memandang batang penisku di air yang jernih itu. Karena merasa tidak tahan lagi kulihat ketiga wanita dihadapanku itu mulai menggosok-gosok bibir vagina mereka dengan tangan, aku segera keluar dari air dan langsung meraih handukku yang tadi kuletakan diatas batu, lalu dengan cepat aku memakai celana dalam dan celana pendekku dengan tergesa-gesa.
“Saya duluan bu Yati, tolong pamitkan pak Haji. Mari bu Masmah saya udah kedinginan nih,” kata ku berbohong. sebenarnya aku ingin segera pulang untuk onani karena aku ingin segera menyalurkan hasratku dan tidak ada lawan untuk menyalurkan hasrat tersebut. Lagian aku belum terbiasa dengan pemandangan seperti tadi.
“Ya pak, segera kami menyusul”, jawab Masmah dan Yati hampir bersamaan.
Setibanya di rumah aku lansung masuk kamar dan melepaskan celana pendekku untuk segera melakukan onani, namun baru aku mengelus batang penisku sendiri, aku mendengar suara dari kamar Haji Mochtar, aku tak ambil pusing. baru aku mau melanjutkan aksiku, aku mendengar pintu tembusan yang menghubungkan kamarku dan kamar Haji Mochtar terbuka, tentu saja aku terkejut dan berusaha menutupi bagian bawah tubuhku yang tidak bercelana. Namun sekali lagi aku dibuat terkejut, dari arah pintu itu aku melihat Haji Mochtar bersama Masmah istrinya dan dua perempuan yang salah satunya tadi bertemu aku di sungai memasuki kamarku, lebih mengejutkan lagi mereka berlima dalam keadaan telanjang bulat.
Sambil tersenyum Haji Mochtar berkata,
“Maaf lho pak tadi di sungai saya tinggal sebab saya bertemu dia.” sambil menunjuk wanita di sebelahnya yang belum aku kenal sama sekali.
“Oh ndak apa-apa pak, toh saya bisa pulang sendiri,” jawabku.
Lalu Haji Mochtar berkata lagi, “Begini pak, bapak kan tamu saya.Disini ada adat tidak tertulis yang mewajibkan kami untuk menjamu bapak sepenuhnya termasuk meminjamkan istri kami sebagai teman tidur jika bapak menghendaki, seperti bapak menjamu kami kalau kami ke Jawa. Bedanya kalau di Jawa bapak tidak meminjamkan istri tapi bisa membelikan perempuan untuk kami, yang seperti itu disini tidak boleh karena itu zinah.”
“Jadi saya boleh nih pinjam bu Masmah untuk teman tidur saya malam ini,” tanyaku sembrono.
Page 2 of 11 | Previous page
Next page
Home

Cibulan-Kuningan