
“Uaaaaaaaah, aaku mau kkeluar nichhhhh,” racauku.
“Aaaku jughaaaaaa,” sahut Yati sambil mendorong tubuh Haji Mochtar ke belakang, lalu ganti memasukan batang penisku dalam mulutnya lalu Yati mulai menghisap batang penisku kuat-kuat,sambil mengocok batang penisku dengan tangannya, tak lebih dari sepuluh kocokan kemudian, batang penisku mengejang serta menyemburkan lahar panas yang sejak tadi kutahan,
“Uuuuaaaaaaaaaaahhhhh,hhhhhh,hhhhh,hhhhhh”,lenguhku saat lahar itu menyembur.
Pada saat yang sama dengan tangkas Yati menghisap batang penisku dengan kuat, hingga terasa Yati hampir menelan batang penisku kedalam kerongkongannya. Nampaknya serangan yang dilakukan Masmah dari bawah telah pula berhasil membuat Yati orgasme untuk yang kesekian kalinya.
Pada menit berikutnya kami berenam sudah terkapar kecapaian, Yati dan Masmah tidur memelukku dari kiri dan kananku, Sementara Mukti da Hindun memeluk Haji Mochtar. Kurang lebih dua jam kami tertidur kecapaian, hingga ada suara asing membangunkan kami sambil menggoyang-goyangkan tubuh kami.
“Inaq, Bapak, uras sembayang subuh julu,” (Ibu, bapak, bangun Sembahyang Subuh dulu) suara Umi anak Sulung Yati membangunkan kami.
Meski mata terasa berat dan aku juga tidak sembayang karena bukan muslim akupun terbangun oleh suara itu. Perlahan kubuka mataku, dan kulihat Umi yang baru kelas dua SMA itu mengguncang tubuh ibunya dalam keaadaan telanjang bulat juga. Belum habis keterkejutanku, aku berusaha membuka mata lebih lebar kulhat Rahma anak kedua Haji Mochtar yang baru kelas dua SMP dan bulu jembutnya baru mulai tumbuh itu juga telanjang bulat mengguncang tubuh Haji Mochtar membangunkan bapaknya. Sementara itu Husnul, anak Sulung Masmah tengah membangunkan Mukti, ibu tirinya, dengan cara menusukan jarinya pada vagina ibu tirinya itu. Belum habis keterkejutanku, terasa ada kain basah mengusap lembut pada batang penisku yang lemas dan mengecil karena hawa dingin. Kubuka mata lebih lebar, dan akupun terbeliak karena dihadapanku kulihat Umi tengah asik membersihkan batang penisku dengan kain basah. Aku bangun dan duduk sambil mengucek-ucek mataku berusaha memperhatikan sekelilingku lebih seksama. Kumelihat disana Husnul dan Fendi serta Zamrah (ketiganya anak Haji Mochtar dari Masmah) juga Umi dan Rahma (anak Yati) semuanya telanjang bulat sambil membawa ember dan handuk kecil hendak membersihkan kelamin kami yang baru saja kami pakai bersetubuh. Dengan bingung aku perhatikan Yati, Hindun dan Mukti beranjak bangun Lalu duduk mengangkang di sofa, sementaran Husnul berjongkok di depan Yati sambil mengusap vagina Yati yang masih berlepotan cairan itu dengan menggunakan handuk basah yang dipegangnya. Demikian juga dengan Fendi, dia tengah asik mengelap vagina Mukti, ibu tirinya. Mataku berputar mencari Masmah, dalam hati aku heran kenapa Masmah tidak ikut antrian untuk membersihkan vaginanya. Kumelihat Masmah tengah duduk mengangkang disudut tempat tidur besar itu sambil membersihkan vaginanya sendiri. Dalam hati aku heran kenapa Masmah justru membersihkan vaginanya sendiri tidak ikut antrian untuk dibersihkan oleh anaknya. Sementara itu dibarisan anak perempuan, setelah selesai membersihkan penisku Umi beranjak untuk membersihkan penis Haji Mochtar, sementara Zamrah dan Rahma masih asik mengelus penisku dengan lembut. Pada menit berikutnya kembali Umi mendekati penisku dengan mulut terbuka lalu mulai menjilati batang penisku. Lalu kemana Haji mochtar ? ternyata Haji Mochtar tengah asik membersihkan vagina Masmah. Setelah acara bersih-bersih selesai, mereka semua beriringan menuju ke kolam di samping rumah di kolam yang disebut telaga itu mereka semua mandi keramas bersama-sama. Usai mandi mereka semua lalu naik ke gazebo yang berada di dekat kolam itu lalu sembahyang bersama dipimpin Haji Mochtar. Setelah selesai sembahyang berjamaah, mereka lalu melepas seluruh pakainnya dan beriringan kembali ke dalam kamar dimana aku sedari tadi menunggu sambil memperhatikan mereka dari jendela kamar yang dibuka oleh Umi. Sesampainya dalam kamarku, Haji Mochtar bertanya padaku,
“Bagaimana pak Theo, masih mampu melanjutkan permainan kita ?”
“Boleh, tapi apa kalian semua tidak pergi kerja ?” jawabku sambil bertanya.
“Baiklah kalau begitu kita lanjutkan permainan kita. Masalah kerjaan kan banyak pembantu yang mengerjakan. Tapi sebaiknya sebelum kita lanjutkan permainan kita ada baiknya kita ngopi dulu sambil sarapan,” kata Haji Mochtar.
“Betul juga itu, sambil ada beberapa beberapa hal yang perlu saya tanyakan,” jawabku.
“Kalau begitu mari kita ngopi dulu di ruang tengah atau di santrean (gazebo di halaman samping rumah) pak ?” jawab Haji Mochtar sambil beranjak berdiri.
“Nampaknya di luar masih dingin, sebaiknya kita di ruang tengah saja,” jawabku.
Page 8 of 11 | Previous page | Next page
Home

Cibulan-Kuningan