
“Uuuuuuughh ahhh !!!!” Mukti melenguh dan kurasakan ada cairan hangat yang menyembur penisku di dalam vagina Mukti. Beberapa detik kemudian aku merasakan tubuh Mukti melemas bagaikan kain basah. Merasa tidak akan ada perlawanan lagi dari Mukti, segera kucabut batang penisku yang masih tegak berdiri. Setelah kusingkirkan tubuh Mukti yang lemas, aku memandang ke sekeliling mencari lawan yang masih mampu untuk melayaniku melepaskan dorongan dari dalam tubuhku yang serasa mau meledak.
Dari empat perempuan yang ada, kulihat hanya Yati yang masih bertahan. Yati masih asyik naik turun diatas Haji Mochtar. Nampak gerakan Yati sudah sangat liar, menandakan dia sudah hampir orgasme untuk yang kesekian kalinya. Di bawah Yati kulihat Haji Mochtar dengan tubuh mengejang dan mulutnya mendengus seperti sapi yang sedang disembelih, nampaknya Haji Mochtar juga hampir ejakulasi. Segera kuhampiri Yati dari belakang, kutekan punggung Yati agar dia lebih mendekat ke tubuh Haji Mochtar. Yati yang sudah begitu berpengalaman melayani lebih dari satu laki-laki segera tanggap maksudku. Segera Yati menghentikan gerakannya dan memberikan kesempatan buatku untuk memasukkan batang penisku ke lubang anusnya. Tanpa membuang waktu segera kuarahkan batang penisku ke lubang anus Yati setelah kuludahi terlebih dahulu, lalu kutempelkan topi baja penisku pada bibir anus Yati. Dengan kedua tangan kubuka belahan pantat Yati agar lubang anusnya ikut terbuka. Perlahan tapi pasti aku mulai menekan batang penisku untuk menembus lubang anus Yati yang sudah tidak sempit lagi itu, namun karena sudah lebih dari dua tahun Yati tidak melakukan anal seks, lubang anusnya terasa sangat sempit sekali.
“Aaaaaauuuuuuuuuuuuh ssssssssaaakit, pepepelan phaaak,” rintih Yati menahan sakit dan nikmat.
Setelah berhasil masuk, kutahan sebentar batang penisku dalam lubang anus Yati, agar Yati dapat beradaptasi. Selang beberapa saat kemudian Yati mendesis seperti orang kepedasan,
“sssssh,sssssssssh,sssssssssssssh,” begitulah tanda Yati jika siap untuk penetrasi setiap kali main dengan dua lawan atau lebih. Dulu waktu Yati masih tinggal di Malang dan suaminya masih hidup, kami sering sekali main bersama bertiga bersama dengan almarhum suaminya dan pak Hendra bos kami. Mendapat serangan ganda seperti itu tak lama kemudian Yati mulai liar gerakannya, Yati menghentak maju mundur tak beraturan pertanda sudah hampir orgasme. Kulihat haji Mochtar yang berada di bawah juga semakin liar pertanda sudah hampir klimax, sementara akupun sudah hampir meledak. Pada kondisi seperti itu segera aku ambil komando ;
“Cabuuuuuuuuuut,” kataku sambil terengah.
“Uuuuuaaaaaaaaaaaaaaah,” sahut Yati sambil merangkak maju hingga kedua batang penis yang menusuknya terlepas.
segera setelah itu Yati bergeser dan merubah posisi duduk di sofa dengan kedua paha yang mengangkang, sehingga belahan vaginanya nampak merah merekah. Aku segera berdiri sambil mencekik batang penisku agar tidak memuntahkan spermaku yang serasa hampir meledak, kutengok Haji mochtar bingung dan batang penisnya nampak berkedut-kedut hendak menumpahkan sperma. Segera aku memberi komando ;
“Tahan pak Haji, cekik, jangan sampai muntah dulu. Berdiri pak,” kataku pada Haji Mochtar.
Meski bingung Haji Mochtar menurut saja pada perintahku, segera dia berdiri sambil mencekik batang penisnya sepertiku. Kutengok ketiga perempuan yang lain yang berada di kasur, apakah mereka masih menonton atau sudah terkapar. Ternyata ketiganya masih terkagum dengan permainan kami bertiga, melihat itu segera kulambaikan tanganku meminta mereka untuk mendekat, segera mereka bertiga beringsut dari tempat tidur lalu mendekati kami bertiga. Setelah dekat segera kucium Masmah di depan suaminya dan kubisikan di telinganya ; “Jilatin vagina Yati, biar dia orgasme lagi,” kataku di telinga Masmah.
“Ya pak, beres”‘ jawab Masmah.
Segera setelah itu aku melangkah maju dan menyodorkan batang penisku ke wajah Yati. Segera Yati menyambut batang penisku dengan tangan kanannya sementara tangan kirinya telah menggenggam penis Haji Mochtar, lalu dibimbingnya kedua batang penis yang digenggamnya itu mengarah ke mulutnya. Setelah dekat dijilatnya topi baja penisku dan penis Haji Mochtar bergantian sambil diurut lembut pada batangnya. Pada saat tangan Yati bergerak untuk memberikan kocokan yang kedua batang penis Haji Mochtar berdenyut kuat, segera Yati menarik batang penis tersebut untuk memasuki rongga mulutnya yang telah terbuka lebar. Segera setelah topi baja Haji Mochtar menyentuh bibir Yati, menyemburlah cairan kental dari batang penis itu. Nampaknya Yati tidak mau menyia-nyiakan cairan Haji Mochtar itu, segera dikulumnya batang penis Haji Mochtar lalu dihisapnya kuat-kuat hingga tidak setetespun sperma yang tertumpah, semua ditelan oleh Yati sebagai obat awet muda, sementara itu tangan kanan Yati masih terus aktif mengocok batang penisku. Tak lama kemudian aku mulai merasakan kedutan pada batang penisku ;
Page 7 of 11 | Previous page | Next page
Home

Cibulan-Kuningan