
“Eee terus ndak boleh berhenti!” kataku pada mereka berdua.
Aku lalu meraih pantat Masmah yang sedang nungging diatas Hindun, kuarahkan batang penisku pada vaginanya yang tampak sempit diantara dua pantatnya yang tidak begitu besar itu.
“Bu Hindun ganti sasaran pada buah pelirku ya, sekalian tolong arahin rudal ini ke lubang bu Maasmah !” kataku memerintah Hindun sambil berdiri pada kedua lututku tepat dibelakang Masmah.
“Baaaaaik phaak,” jawab Hindun sambil meraih batang penisku.
“Auuuuuuuh, ssssssaakiit paaak,” erang Masmah karena baru sekali ini dia merasakan penis sebesar punyaku.
“Aaaaaaaaah, buukaaaaiiin bbbibirnya deengan jajarii bbu nDun”, sahutku sambil menarik pinggang Masmah agar penisku dapat masuk lebih dalam pada vaginanya.
“Auuuuuuuh, ssssssaakiit paaak susuudah paakk ndaaak kuuuat,” erang Masmah lebih lanjut.
Mendengar itu aku jadi lebih bernafsu untuk menghajar Masmah lebih lanjut, kutekan penisku kuat-kuat agar bisa masuk seluruhnya dalam vagina Masmah, lalu aku berhenti untuk memberikan kesempatan pada Masmah agar bisa beradaptasi dengan penis besarku. Sementara itu aku menoleh untuk melihat reaksi Haji Mochtar melihat istrinya kesakitan. Aku tidak melihat reaksi Haji Mochtar, karena dia sudah berganti posisi terlentang di lantai dan dua perempuan diatasnya berjongkok sambil berhadapan, Yati pada bagian bawah dan Mukti berjongkok di wajah Haji Mochtar yang tampak asyik menikmati vagina Mukti dengan lidahnya. Kurang lebih satu menit kubiarkan batang penisku diam dalam vagina Masmah, sementara kantung pelirku sesekali dihisap oleh hindun, lalu aku bertanya,
“Masih saakit bu Masmah ?”
“Ssssedikiiiit tataappppi eeeeenaaak phak,” jawab Masmah.
Mendapat jawaban seperti itu aku mulai menarik pantatku kebelakang perlahan lalu mendorongnya kedepan lagi.
“Auuuh, aaaaaah, aaaaaaaaaaa, aaaaaah,” erang Masmah setiap kali aku menekan batang penisku karena menabrak dinding rahimnya.
Semakin lama semakin licin lubang vagina Masmah semakin cepat pula gerakanku. Tak lama kemudian aku merasakan lobang vagina Masmah berdenyut, lalu kutekan penisku dalam-dalam pada vagina itu.
“Mmmmmmhhhhhh,mmmmaaaaaahhhhhh”, tiba-tiba Masmah mengerang tertahan karena mulutnya tersumbat vagina Hindun. Bersamaan dengan itu aku merasa ada cairan hangat yang menyembur penisku dari dalam vagina Masmah.
Bersamaan dengan itu Hindun mengejang sambil men jepit kepala Masmah dengan kedua pahanya. Mereka berdua orgasme hampir bersamaan. Setelah tubuh Masmah melemas, kucabut batang penisku, lalu kubalik posisi mereka berdua agar Hindun berada diatas Masmah. Sekarang Hindun dalam posisi nungging berada diatas Masmah. Aku lalu berpindah ke belakang Hindun dan mulai melakukan serangan yang sama seperti pada Masmah tadi. Vagina Hindun memang tidak sesempit Masmah jadi agak lebih mudah aku memasukan batang penisku pada vaginanya, apalagi ditunjang cairan yang begitu banyak dari dalam vagina memudahkan aku untuk menggoyang maju mundur. Namun demikian aku merasa vagina Hindun masih cukup sempit.
“Aaaaaaaaaah,aaaaaaah,” erang Hindun setiap kali aku menggerakkan pantatku kedepan dan kebelakang.
“Aaah hhhh uuuuuuuh aaaaaaaaaaaaah,” suara Yati yang sedang bermain di lantai dengan Haji Mochtar.
“Aaaaaaadddduuhh ppaaaaaak aaku keelluar laghiiiiii,” rintih Hindun sambil bandannya mengejang.
Tanpa memperdulikan rintihan Hindun kuayun pantatku lebih cepat, begitu nikmat rasanya vagina yang menyempit karena tubuh yang mengejang. Ditambah lagi dengan denyutan yang cukup kuat dalam lobang nikmat Hindun yang sedang orgasme. Kurang lebih satu menit kemudian tubuh Hindum melemas tak berdaya. Karena sudah tidak ada perlawanan dari kedua perempuan di bawahku, aku segera beranjak turun dari tempat tidur lalu menghampiri Mukti dari arah belakang.
Setiba di belakang Mukti, lalu kuangkat pantat perempuan itu hingga mencapai posisi merangkak. Dalam posisi seperti itu segera kutusukan batang penisku kedalam liang senggama Mukti yang sudah basah tersebut. Walaupun liang senggama Mukti sudah sangat basah sekali karena cairan nikmatnya sendiri yang bercampur dengan ludah Haji Mochtar. Meskipun lubang vagina Mukti sudah sangat basah dan licin, namun masih begitu terasa menggigit, karena walaupun Mukti sudah 5 tahun menikah dengan 5 laki-laki, namun Mukti belum pernah hamil apalagi melahirkan.
“Uuuuuugh, aaaahh, ssssss,” desah Mukti begitu merasakan batang penisku yang cukup besar menembus bibir vaginanya.
“Aaaaah,aaaaah,aaaaaaaaaaaah,” desah Mukti setiap kali aku mengayunkan pantatku maju mundur.
Kurang dari 5 menit kemudian aku merasakan tubuh Mukti mengejang dan mulutnya melenguh panjang,
Page 6 of 11 | Previous page | Next page
Home

Cibulan-Kuningan