
Masmah masih terlentang di kasur, aku lalu tengkurap diatasnya lalu aku memagut bibirnya. Seperti Hindun, Masmah juga sudah cukup tanggap. Tiba-tiba aku merasakan tangan Masmah memegang batang penisku dan berusaha untuk membimbing penisku kearah selangkangannya.
“Eeeit, belum waktunya,” kataku sambil melepaskan pagutanku pada bibirnya.
“Kalian berdua duduk berdampingan di sini” kataku sambil berdiri ditengah-tengah tempat tidur. Setelah mereka berdua menuruti perintahku, kusodorkan penisku kearah mulut Masmah. Karena tadi Masmah sudah melihat apa yang telah dilakukan Yati, diapun mengerti yang kumau. Segera Masmah memegang batang penisku lalu mulai menjilatinya. Kujambak rambut ubun-ubun Masmah agar mulutnya terbuka, setelah Masmah membuka mulutnya, kumasukkan batang penisku kedalam mulutnya. Karena mulut Masmah agak, kecil terasa sesak penisku dalam mulutnya. Masmah hanya bisa mengakses penisku hingga sebatas helmnya saja.
Kutarik batang penisku dari mulut Masmah, lalu kusodorkan ke mulut Hindun yang nampak sudah tak sabar untuk menikmati batang penisku juga. Karena mulut Hindun lebih besar, terasa lebih longgar dan lebih panjang batang penisku yang bisa diaksesnya, meskipun tidak sampai setengah dari batang penisku yang bisa diaksesnya. Setelah merasa cukup menikmati mulut mereka berdua yang bergantian mengulum penisku, kudorong kepala Hindun kebelakang agar melepaskan batang penisku. Setelah itu kusuruh Hindun untuk terlentang dan Masmah menungging diatasnya dalam posisi 69. Mereka berdua nampak belum paham dengan perintahku.
Setelah kuajari Masmah dan Hindun untuk saling menjilati clitoris lawan mainnya, aku segara turun dari tempat tidur dan mendekati Mukti yang sudah belingsatan dari tadi.
“Ayo kamu juga harus belajar jadi penyiar !” kataku sambi berdiri diatas sofa, agar posisi penisku tepat didepan mulut Mukti.
“Mari pak, saya juga pingin merasakan jadi penyiar seperti kak Masmah dan kak Hindun,” kata Mukti. Mukti lalu memegang batang penisku dan mulai memainkan dengan ujung lidahnya, tiba tiba kudengar Yati berkata pada Haji Mochtar, katanya :
“Heh kamu tadi baru main dengan Mukti kan ?”
“Iya kak, memangnya kenapa ?” jawab Haji Mochtar.
“Sudah kamu bersihin belum ?” tanya Yati lagi.
“Belum kak, biasanya kan dia bersihin sendiri,” jawab Haji Mochtar lagi.
“Nggak tanggung jawab, maunya makai aja ndak mau membersihin. Ayo bersihin, nanti biar kalau dipakai pak Theo sudah bersih”, perintah Yati.
“Baik kak,” kat Haji Mochtar sambil bangkit berdiri lalu hendak melangkah pergi.
“Eeeee mau kemana kamu ?” Yati bertanya pada Haji Mochtar.
“Gimana sih, katanya suruh bersihin. ya mau ambil lap sama air,” jawab Haji Mochtar jengkel.
“Bodoh, tadi kan sudah diberi contoh sama pak theo, juga sama aku kan sudah kuberi contoh masak masih mau ambil lap ?” kata Yati.
“Sini lihat cara bersihinnya!” kata Yati sambil bangkit dari sofa lalu berlutut di lantai tepat dihadapan Mukti. Yati lalu membuka kedua kaki Mukti yang duduk dengan kaki rapat agar megangkang, setelah kedua kaki Mukti mengangkan lebar, Yati lalu menyerang pangkal paha Mukti dengan mempergunakan lidahnya. Diperlakukan seperti itu Mukti mulai mengerang,
“Aaaaarrggh,” suara Mukti tertahankarena mulutnya penuh dengan batang penisku.
Nampak Haji Mochtar mulai bangkit lagi gairahnya, batang penisnya nampak mulai bergerak untuk bangkit lagi. Dia lalu bergerak menuju belakang Yati untuk menirukan gerakan kakak iparnya itu pada vagina Yati. Dalam posisi setengah merangkak seperti itu tentulah pantat Yati yang cukup besar itu begitu mengundang nafsu untuk disetubuhi. Apalagi Haji Mochtar sudah memendam rasa untuk merasasakan vagina kakak iparnya itu sejak bertahun-tahun yang lalu. Sejak almarhum kakaknya masih hidup, tapi sayang Haji Mochtar tidak pernah berani untuk mengatakan keinginannya itu pada almarhum kakaknya. Padahal apabila dia berani untuk mengatakan pada almarhum pasti dipinjamkannya. Perlahan Haji Mochtar bangkit dari sofa lalu merangkak ke belakang Yati. Setelah wajahnya tepat di belakang pantat Yati, Haji Mochtar mulai menirukan gerakan lidah Yati pada vagina kakak iparnya itu. Mendapat serangan secara tiba-tiba tentu Yati terkejut, dia mulai mengerang ;
“Aaaaaaaah, baaaaaagusssssssss kamu beelajaar duuluu di puuunyakuuuuuuuuu.”
“Sluuurp, ya kak, begini khann ? sluuuuuuuuuurp,” jawab Haji Mochtar.
“Baaguuss, sesekarang kamu beersihiin punya Mukthii,” jawab Yati sambil menahan nikmat seraya berdiri. Yati lalu ikutan Mukti menjilati penisku.
“Sssssudaaah, rudal ku mauu tak khandangin dhuluu aaaaaaaah,” kataku sambil melompat turun dari sofa menuju ke tempat tidur.
“Kalian berdua selesaikan Haji Mochtar!!” perintahku pada Yati dan Mukti.
Sesampainya diatas tempat tidur, aku lalu mendekati Masmah dari arah belakang. Kuraih rambut Masmah yang panjang sepantat itu lalu kugulung agar tidak menggangu serangan yang telah kurencanakan pada Masmah. Tahu aku dekati Masmah dan Hindun berhenti bermain.
Page 5 of 11 | Previous page | Next page
Home

Cibulan-Kuningan