
“Ouuuuuuuugh, ssssssssshh, aaaaaaaaah,” mulut Yati melenguh dan mendesis seperti orang kepedasan.
“Hhhhhhhh, hhhhhhhh, yeesssss,” timpalku saat batang penisku berhasil menerobos liang vagina Yati.
“Ouuuuuuugh aaaaaaah, eeeeeenaaaaak kaaak,” sambung Haji Mochtar, yang baru pertamakali itu merasakan oral sex.
Setelah kutahan beberapa saat, kutarik pinggulku ke belakang hingga penisku terlepas dari vagina Yati. Setelah penisku terlepas lalu kumasukkan lagi pada liang vagina Yati, demikian kuulangi hingga tiga kali.
“Ouuuuuuuugh, Ouuuuuuuugh,” desah Yati setiap kali penisku menembus bibir vaginanya.
Setelah aku merasa mantap posisiku, kupegang pinggul Yati yang cukup besar itu dengan kedua tanganku lalu kuayun maju mundur.
“Ouuuuuuuuuuughhhhh aaaaaaaah,” desah Yati dengan mulut penuh karena sedang mengulum penis Haji Mochtar.
“Aaaaaaaaah teeeeeeerus phak Theeo, eeeeeeenaaaaaakk,” lenguh Yati lagi.
“Auuuuuuuuuh aaawaass kaaak, aku hampir keluar !!!!!!!” pekik Haji Mochtar tertahan.
Mendengar itu Yati bukannya melepas penis Haji Mochtar, tapi malah mempergencar serangannya pada penis Haji Mochtar. Dikulumnya seluruh batang penis Haji Mochtar yang tidak begitu besar itu hingga sampai kepangkalnya, lalu Yati menggeleng kekiri dan kekanan dengan cepat sambil menghisap batang penis itu. Diperlakukan seperti itu Haji Mochtar semakin tak tahan, tubuhnya mulai mengejang dan mulutnya melenguh ;
“Aaaaaaawaaaaas kaaaaaaaak, aku keluarhhhhh !!!!”
“Sseerrrrrrrrrt, ssssssseeeeert,” penis Haji Mochtar memuntahkan lahar panasnya.
“Gllk, glek, aaaaaaah,” Yati menelan seluruh sperma Haji Mochtar yang tertumpah di mulutnya.
Tigapuluh detik kemudian kulihat Haji Mochtar lunglai tak berdaya, sementara Yati masih sibuk menjilati ujung penis Haji Mochtar.
“Ouuuuuugh sudah kak aku sudah tak tahan lagi, aakku suudaah taaak kuuuat,” erang Haji Mochtar, sambil menjambak rambut Yati, dan berusaha menjauhkan mulut Yati dari penisnya.
Melihat itu aku jadi kasihan juga dengan Haji Mochtar, lalu kutarik pinggul Yati yang dari tadi kupegang sambil berkata,
“Ganti posisi hhhhhh!”
Tanpa melepas penisku dari vagina Yati kutarik dia kebelakang lalu aku berjalan mundur berputar hingga kearah sofa, lalu aku duduk di sofa di sebelah mukti yang sedari tadi kulihat sibuk menggosok-gosok vaginanya dengan telapak tangannya sambil memperhatikan kami bertiga. Dengan posisi aku terduduk di sofa dan Yati berada diatasku dalam posisi membelakangiku, yati mulai beraksi dengan cara bergerak naik turun diatasku hingga penisku bergerak keluar-masuk dalam vaginanya. Tanganku tidak lagi memegangi pinggulnya tetapi kumainkan clitoris Yati dengan kedua tanganku. Kuperlakukan seperti itu Yati semakin tak tahan. Gerakannya makin cepat dan mulutnya menceracau dengan suara aneh yang cukup keras. Hingga dalam kamar terdengar gaduh oleh ceracau Yati, mungkin dari luar kamarpun terdengar cukup kuat.
“Ouuuuuugh, aaahh, sssssssh, aaaaku maaauu kheeluaaarh phaak Theooooooo !!!! pekik Yati sambil mempercepat gerakannya.
Tiba-tiba kurasakan tubuh Yati mengejang lalu menekan kuat-kuat pinggulnya ke bawah hingga seluruh batang penisku tertancap seluruhnya kedalam liang vagina Yati hingga terasa kepala penisku meenyentuh dinding rahim Yati.
“Oooooouuuuuuh aaaaaaah aaaaaahhhh,” pekik Yati.
“Ssreeeeeet, ssssseeeeeeeeerrrrrr, ssesseerrrrr,”aku merasa ada cairan kental hangat dari dalam vagina Yati mengguyur batang penisku. Cukup banyak juga cairan yang keluar dari dalam vagina Yati hingga berleleran membasahi pangkal pahaku.
“Hhhhhhhhh belum apa-apa sudah mbonjrot, nggak tanggung jawab kataku,” sambil berusaha mengintip Masmah dari bawah ketiak Yati. Masmah dan Hindun yang berada di tempat tidur dihadapan Yati nampak terbeliak melihat itu.
“ayo tanggung jawab!” kataku sambil mendorong tubuh Yati kesamping. Kemudian aku berdiri dan menyodorkan batang penisku kemulut Yati untuk dibersihkan. Dengan tubuh lunglai, Yati menerima sodoran penisku lalu dengan sisa tenaganya mulai menjilati batang penisku hingga bersih. Setelah bersih, aku lalu berjalan menuju tempat tidur untuk menuntaskan haratku dengan Masmah. Melihat itu Hindun lalu bangun dan hendak turun dari tempat tidur, tapi aku mencegahnya.
“Eit mau kemana ? kamu juga kan sudah dipinjamkan padaku oleh suamimu ?” tanyaku pada Hindun.
“Bukannya pak Theo mau main dengan kak Masmah ?” tanya Hindun bingung.
“Denganmu juga mari kita bermain bertiga,” jawabku.
“Iya pak saya juga pingin merasakan seperti Kak Yati tadi, memangnya bapak masih mampu ? lagipula giliran saya kan setelah Kak Masmah,” tanya Hindun bingung.
“Ngapain pakai ngantri kayak mau beli karcis bioskop saja, mari sini kuajari kalian main bertiga,” jawabku sambil memeluk belakang kepala Hindun agar tak lari dia. Kuberi Hindun ciuman di bibir, nampaknya Hindun sudah mulai tanggap dan memagut bibirku.
“Hebat baru belajar langsung bisa,” kataku memuji Hindun sambil melepaskan pagutan Hindun di bibirku.
Page 4 of 11 | Previous page | Next page
Home

Cibulan-Kuningan