
Saat semakin dekat Aldis menyoba menyapa Ningsing. “Rajin sekali mbak. Sudah siang masih di ladang,”. Mendengar itu Ningsih menoleh “Eh..Iya mas..kalau ndak rajin kami makan apa..kami hanya mengandalkan hasil ladang untuk makan. Tidak seperti mas Aldi yang tidak harus panasan di ladang sudah punya gaji tinggi,” ujar Ningsih. “Ah bisa saja mbak ini..,” ujar Aldi mengelak.
Karena survei hampir selesai, Aldi menyempatkan berbincang-bincang dengan Ningsih. Saat berbincang-bincang inilah ia baru benar-benar memperhatian Ningsih. Meski usianya sudah berkepala empat namun badan perempuan tersebut sintal dan kencang, mungkin karena biasa bekerja di ladang. Tingginya sekitar 155 cm. Dadanya besar bulat terlihat jelas di balut kebaya warna merah yang lusuh. Bahkan sebagian gundukan dadanya menyembul di antara kebaya yang dipakainya. Kulitnya berwarna agak hitam namun terlihat manis. Jika saja bajunya tidak lusuh mungkin masih terlihat kecantikannya.
Saat tengah memperhatikan Ningsih ini Aldi dikejutkan suara Tari. “Bu sudah siang, Tari lelah,” ujar Tari. Mendengar hal ini Ningsih meminta anaknya pulang dulu. Mungkin karena ndak enak hati karena masih ngobrol dengan Aldi. “Sudah kamu pulang dulu, nanti ibu menyusul,” jelas Ningsih.
Setelah Tari pulang Ningsih meminta obrolan dilanjutkan di gubuk yang berada di tengah ladang. “Mas jangan ngobrol di sini. Di gubuk saja, sekalian saya mau ambil jagung muda yang dipetik tadi ,” ujar Ningsih. “Lho masih muda kok sudah dipetik,” ujar Aldi heran. “Ya memang harus dipetik. Satu tanaman hanya satu jagung saja. Supaya besar. Jika berbuah lebih dari satu dipetik saat muda untuk dijual ke pasar guna di masak sayur,” ujar Nigsih.
Tanpa berakata lagi Aldi berjalan mengikuti Ningsih. Saat berjalan itulah matanya kembali memperhatikan tubuh Ningsih. Saat itu dimatanya makin jelas melihat bahwa tubuh perempuan di depannya benar-benar sintal. Pantatnya besar dan kencang, terlihat jelas dibalut kain jarit sebatas lutut. Melihat itu tak terasa Aldi menelan lidah dan jakunnya naik turun, nafsunya perlahan namun pasti mulai naik.
Saat menyusuri pematang itulah tiba-tiba Ningsih terpeleset dan berteriak kecil. Dengan sigap Aldi menangkap tubuh Ningsih dari belakang. Namun itu justru membuat mereka berdua limbung, terpelintir dan jatuh berguling ke ladang jagung di tepi pematang. Secara naluriah tangan kanan Aldi melindungi bagian kepala ningsih agar tidak terbentur tanah sedangkan tangan kiri memegang bagian pinggang. Sementara kedua tangan Ningsih mencengkram erat pundak Aldi. Kondisi ini justru membuat tubuh Aldi menghimpit erat tubuh Ningsih.
“Tidak apa-apa mbak?,” tanya Aldi sambil khawatir. Ningsih yang ditanya malah diam, terlihat wajahnya masih kaget dan takut. Namun itu tak berlangsung lama. “Ndak apa-apa hanya kaki dan punggungku sedikit sakit,” jelas Ningsih. Mendengar ini Aldi mencoba meraba punggung Ningsih, namun tiba-tiba Ningsih sadar bahwa tubuhnya terhimpit oleh Aldi. Ia buru mendorong tubuh Aldi, ini membuat Aldi juga sadar bahwa ia menghimpit Ningsih.
Aldi lantas buru-buru mengangkat tubuhnya namun saat hendak duduk justru melelihat pemandangan indah di depan matanya. Kancing kebaya yang dipakai oleh Ningsih lepas dan putus. Begitu pula dengan kait BH bagian depan sobek dan nyaris putus. Di balik BH lusuh tersebut menyembul payudara besar milik Ningsih. Benar-benar besar menantang dan masih kencang. Melihat hal ini, jantung Aldi berdetak lebih cepat, matanya terus tertuju kepada kedua payudara Ningsing.
Dipandangi seperti itu Ningsih sadar bagian depan tubuhnya yang sensitif terbuka. Ia terkejut dan lantas menutup payudaranya dengan kedua tangannya. Wajahnya memerah malu. Melihat hal ini Aldi mencoba memalingkan wajahnya meski dihati tidak ingin melepaskan pemandangan indah di depan matanya. Melihat Aldi berpaling Ningsih lantas segera membenahi kebayanya namun karena kancing bajunya sudah putus tidak bisa menutupi secara sempurna. Salah satu tangganya harus tetap memegang kebaya itu agar tidak terbuka.
Dari duduk bersimpuh ia mencoba berdiri. Saat hendak berdiri itulah tiba-tiba pergelangan kakinya terasa sakit, karena terkilir. Namun ia paksakan berdiri, itu justru membuat dirinya goyah dan jatuh kembali. Sial sebelum jatuh, kakinya menginjak kain jarik yang menutupi bagian bawah tubuhnya. Karena ikatannya sudah longgar membuat kain tersebut terlepas. Celakanya tanpa celana dalam. Mendengar teriakan lirih Ningsih saat jatuh membuat Aldi menengok kembali. Saat itu terlihat bagian bawah tubuh ningsih terbuka.
Kondisi ini membuat wajah Ningsih kian memerah menahan malu. Rasanya ingin menangis. Kedua pahanya secepatnya ditutup dan kakinya ditekuk untuk menutupi area sensitifnya. Sedangkan kedua tangannya masih memegang erat kebayanya.
Page 2 of 4 | Previous page | Next page
Home

Cibulan-Kuningan