
Disuguhi pemandagan indah seperti ini membuat nafsu Aldi kian memuncak. Namun demikian masih ada rasa iba dihatinya. Dengan perlahan dihampiri Ningsih, diambilnya kain jarit yang terlepas kemudian dipakaikan untuk menutup tubuh bagian bawah Ningsih. Sambil berkata lirih “Maaf mbak,”. Kemudian Aldi membopong Ningsih. Namun saat hendak dibopong Ningsih menolak “Jangan mas malu dilihat orang desa,” . Namun Aldi tetap membopong perempuan tersebut “Tidak apa-apa. Kaki mbak sedang sakit aku bantu gendong ke gubuk. Siapa tahu setelah istirahat bisa sembuh,’ jelas Aldi.
Nafsu yang sudah memuncak, membuat Aldi tidak membopong ningsih ke Gubuk. Justru ia berjalan ke tengah-tengah ladang jagung. “Mau kemana mas, gubuknya disana..ini mau kemana,” ujar Ningsih. Mendapat pertanyaan seperti itu Aldi hanya diam dan terus berjalan masuk diantara rerimbuan pohon jagung. Saat benar-benar ditengah ladang di dudukan Ningsih di atas tanah.
“Mas..mau apa ini..jangan macam-macam,” kata Ningsih lirih mulai curiga. Wajahnya kelihatan mulai pucat. “Tenang saja mbak aku bantu supaya sembuh,” jelas Aldi.
Setelah membaringkan ningsih secepat kilat ia memeluk tubuh perempuan itu dan melumat bibirnya. Ini membuat ningsih gelagapan. Dengan reflek ningsih hendak mendorng tubuh Aldi namun tenaganya kurang kuat. Justru himpitan tubuh aldi kian kuat.
Tidak hanya melumat bibir Ningsih, tangan Aldi pun mulai bergerilya di dua bukit kembar ningsih. “benar-benar masih kenyal dan kencang,” batin Aldi. Ini membuat ia kian buas meremas payudara Ningsih.
Remasan Aldi membuat ningsih menggelinjang. “Ouwh..Ouwh..” desahan keluar dari bibir ningsih pelan. Namun tangannya masih menahan tubuh Aldi.
Dari bibir ciuman diarahkan ke leher. Bau keringah khas wanita benar-benar terasa, ini membuat Aldi kian bernafsu. Diciumi dan dijilati leher ningsih dengan liar. Ciuman aldi membiat ningsih blingsatan. Nafsu mulai menjalari tubuh ningsih. Kedua tangganya yang tadi menolak tubuh aldi kian melemas. “Jangan mas..ah..ah,’ desah Ningsih.
Mendengar desahan ningsih membuat Aldi kian bersemangat. Kali ini ia menelusuri payudara ningsih. Dibenamkan wajahnya dalam dua bukit kembar ningsih yang membusung dan menantang. Dari antara dua bukit itu lidahnya bermain, menyapu pelan hingga ke puting susunya. Dikulumnya dengan halus dan kadang digigit pelan. Ini membuat Ningsih kian menceracau. “Mmmm ahhh..,” desahan keluar dari mulut ningsih.
Dari payudara Aldi kembali melumat bibir Ningsih. Lidahnya bermain dilangit-langit mulut ningsih. Ini membuat desahan ningsih kian kuat. Sembari melumat bibir perempuan setengah baya ini, dengan pelan Aldi melepaskan bajunya sendiri. Setelah bajunya lepas dihimpit kembali tubuh ningsih. Kali ini tidaklah keras namun halus dan penuh perasaan. Gesekan antara dada yang bidang dengan payudara yang membusung membuat dua insan itu kian tenggelam dalam nafsu.
Setelah puas melumat bibiur ningsih dan mempermaikan payudara perempuan itu. Denga pelan dilepaskannya kain jarit yang menutupi bagian bawah perempuan itu. Secara reflek Ningsih menghimpitan kedua pahanya secara erat. “Jangan mas..jangan berlebihan,” jelas Ningsing.
“Tenang aja mbak..” kata aldi. Dengan kedua tangganya ia membuka paha Ningsih. Agak susah karna ada sediikit perlawaan. Diciuminya paha ningsih dengan halus. Dengan tangan kananya diremas pelan payudara ningsih. Ini membuat Ningsih kembali melayang. Dua paha yang tadinya menghimpit keras, pelan-pelan melunak dan mulai terbuka. Dari paha ciuman Aldi terus naik dan mendapati bukit mungil yang ditumbuhi rambut. Pelan-pelan dibuka bukit kecil tersebut dan mulai dijilat. Baunya sangat khas, namun Aldi sudah tidak mempedulikannya. dengan nafsu di sedot pelan belahan bukit kecil tersebut.
Ningsih yang sudah lama tidak disentuh dan belum pernah merasakan pengalaman seperti ini langsung melayang. Nafasnya kian memburu. Bahkan sesekali pantatnya diangkat saat sapuan dan sedotan halus dilancarkan di klitoris Ningsih.
Puas mempermainkan bagian bawah Ningsih, aldi melepas celananya. Terpampang batang kemaluan Aldi yang cukup besar dan panjang. Melihat hal ini mata ningsih terbelalak. “Mas..sudah mas..jangan dilanjutkan.. ini dilarang,” ujar ningsih dengan muka sendu dan memerah.
Aldi hanya tersenyum, dengan pelan senjatanya ini dimasukan ke liang senggama milik ningsih. Dimasukan ujungnya ditarik lagi. Meski sudah becek namun agak sempit. Barangkali karena ningsih sudah lama tidak disentuh. Itu dilakukan berulang-ulang. Saat setengah batang kemaluannya sudah masuk setengah ke liang senggama ningsih, dengan keras aldi menekannya dan..Bless..masuk semua. Terdengar jeritan ningsih tertahan. “ahhh..mass,’” hanya itu yang keluar dari mulut ningsih.
Page 3 of 4 | Previous page | Next page
Home

Cibulan-Kuningan